ja_mageia

Yayasan Pendidikan Budhi Warman

  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Home Artikel
Artikel
Field Study KIR SMA Budhi Warman II Jakarta

FIELD STUDY KELOMPOK ILMIAH REMAJA

SMA BUDHI WARMAN 2 JAKARTA

LAMPUNG, 15-16 APRIL 2010
Ditulis oleh : Windarto, SPd, MSi

 

Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) merupakan wadah bagi siswa-siswi sekolah baik SMP maupun SMA yang berminat untuk mengembangkan pola pikir dan prilaku ilmiah. KIR sifatnya terbuka bagi remaja yang ingin mempelajari berbagai fenomena melalui kerangka berpikir yang logis dan sistematis sehingga menghasilkan karya-karya ilmiah.


Kelompok Ilmiah  Remaja (KIR) atau Youth Science Club (YSC) awalnya dibentuk untuk remaja usia 12–18 tahun oleh UNESCO pada tahun 1963. Tetapi pada tahun 1970, batasan usia tersebut dirubah menjadi 12–21 tahun (http://www.scribd.com/doc/3487731/Kelompok-Ilmiah-Remaja-KIR). Pada perkembangannya, KIR tidak hanya mewadahi kelompok science, tetapi juga mewadahi kelompok social science.


KIR SMA Budhi Warman 2 sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang cukup diminati siswa-siswi,

Read more...
 
Kegiatan Observasi Siswa Budhi Warman II

KEGIATAN OBSERVASI SISWA SMA BUDHI WARMAN II
KE PP.IPTEK TAMAN MINI INDONESIA INDAH

Ditulis oleh : Windarto, S.Pd, M.Si 
email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Siswa-siswi kelas X SMA Budhi Warman II setiap tahunnya melakukan kegiatan studi di luar sekolah yang berbentuk kegiatan observasi ke objek studi yang berkaitan dengan mata pelajaran di sekolah. Kegiatan observasi pada tahun ini dilakukan di Museum Keprajuritan dan PP.IPTEK TMII.

Setelah melakukan kegiatan  lintas sejarah di Museum Keprajuritan, siswa kemudian menuju ke PP.IPTEK. Perjalanan menuju PP.IPTEK membutuhkan waktu sekitar 10 menit.  Di PP.IPTEK, siswa di bagi menjadi 2 kelompok besar, kemudian melakukan aktivitas berbeda meskipun secara keseluruhan, kegiatan yang dilakukan sama. Hal ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tempat dan memudahkan pembimbingan terhadap siswa.

Read more...
 
BNN

Tiga Langkah Membangun Remaja Bebas Narkoba

Oleh: Tim Data & Info Badan Narkotika Nasional
Peristiwa makin banyaknya penyalahgunaan narkoba di kalangan renaja saat ini benar-benar telah menggelisahkan masyarakat dan keluarga-keluarga di Indonesia.

Membangun remaja yang bebas dari penyalahgunaan narkoba harus didasarkan pada pencermatan terhadap karakteristik pengguna narkoba sekaligus tindakan yang melatarbelakanginya. Menurut analisis Dr. Graham Blaine (psikiater), penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba tidak hanya berasal dari keinginan individu itu sendiri akan tetapi juga berasal dari lingkungan sekitarnya.
Semuanya itu jelas akan memburamkan masa depan keluarga, masyarakat dan bangsa termasuk masa depan remaja itu sendiri. Logika yang dapat ditarik sangat sederhana. Remaja yang menyalahgunakan narkoba sudah menjadi generasi yang rusak dan sulit dibenahi. Tubuhnya tidak lagi fit dan fresh untuk belajar dan bekerja membantu orangtua, sementara mentalnya telah dikotori oleh niat buruk untuk mencari cara mendapatkan barang yang sudah membuatnya kecanduan. Bila sudah demikian, apa yang dapat diharapkan dari mereka?
Selanjutnya dan beberapa studi yang pernah dilakukan, karakteristik pengguna narkoba biasanya adalah remaja-remaja kita yang "bermasalah". Bermasalah disini artinya memiliki beban mental/kejiwaan yang menurut mereka sangat berat dan sulit untuk ditanggung. Misalnya terlalu sering dimarahi orangtua, tidak disukai lingkungan, merasa bersalah karena orangtuanya bercerai, tidak mendapat kasih sayang, prestasi belajar jelek, merasa diremehkan teman yang membuat sakit hati, merasa kurang percaya diri dan sebagainya.
More.....
 
Kurikulum Berbasis Potensi Daerah
 KURIKULUM BERBASIS POTENSI DAERAH
Write : Dept. LITBANG Yayasan Pendidikan Budhi Warman


Kita semua sepakat bahwa krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia (seperti tingginya angka pengangguran, meningkatnya masyarakat miskin, rendahnya daya beli masyarakat, makin maraknya kerusuhan, HIV/AIDS, flu burung, gizi buruk, peringkat korupsi Indonesia di dunia, dan lain-lain) secara substansial diakibatkan mutu sumber daya manusia Indonesia yang masih rendah. Peringkat Human Development Index (dengan kriteria harapan hidup, ketercapaian pendidikan, dan pendapatan asli) Indonesia ada pada posisi 108 (Vietnam 109) dari 177 negara.  Peringkat Human Poverty Index (18,5) ada pada posisi 41 dari 102 negara berkembang, yang terburuk adalah Uruguay (3,3) berada pada peringkat pertama. Hasil perhitungan Bank Dunia terbaru (Desember 2006) 49% (108,78 juta jiwa) dari total penduduk Indonesia dalam kondisi miskin dan rentan menjadi miskin
Jika kita telusuri akar penyebabnya, pendidikan menjadi salah satu masalah utama yang harus diselesaikan secara serius. Alur berpikirnya demikian: Jika angka pengangguran tinggi solusinya adalah membuka lapangan kerja; lapangan kerja dibuka dengan cara menciptakan banyak perusahaan atau industri; perusahaan atau industri dibuat karena menciptakan produk (barang dan jasa); produk hanya dapat diciptakan oleh teknologi; teknologi hanya dapat diciptakan oleh manusia yang memiliki pendidikan yang baik dan benar. Oleh sebab itu jika pendidikan dikelola secara baik dan benar maka akan tercipta manusia Indonesia yang mampu menciptakan teknologi yang menjadi dasar pembangunan industri yang berskala nasional dan international. Prosesnya memang memakan waktu panjang dan biaya besar.
Namun jika kita berpikir sesaat dan cepat, untuk mengurangi pengangguran dilakukan dengan cara mendatangkan investor. Investor datang dengan membawa perusahaan, produk, dan teknologi sudah jadi. Produk dan teknologi yang dibawa tidak sejalan dengan kompetensi masyarakat sekitar, maka didatangkanlah SDM dari luar. Tenaga kerja yang terserap hanya untuk tenaga kerja tak terlatih (unskilled). Contohnya, hanya sedikit orang Timika yang bekerja di Freeport. Dan, pembangunan di Timika untuk masyarakat Timika ?  Investasi yang datang dari luar hendaknya dibarengi dengan pengembangan sumberdaya manusia untuk siap memanfaatkan ivestasi untuk kepentingan seluruh masyarakat.
Sudah menjadi kaidah mutlak bahwa suatu bangsa hanya dapat memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang melalui pendidikan.  Pendidikan seharusnya dapat mencerdaskan bangsa dalam arti luas. Bangsa yang cerdas dapat menumbuhkembangkan kesejahteraan bagi bangsa itu sendiri. Itu berarti bahwa pendidikan berkontribusi positif terhadap pembangunan kesejahteraan bangsa.  Pendidikan harus mampu membentuk sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan karakter yang kuat.  Bagaimana jika pendidikan sudah berlangsung sekian lama namun hasilnya kurang memuaskan? Apakah banyaknya jumlah sarjana pertanian yang dihasikan perguruan tinggi telah mampu meningkatkan pembangunan bidang pertanian? Pertanyaan yang sama dapat diajukan untuk bidang-bidang lainnya. Apakah pendidikan di desa nelayan dapat meningkatkan mutu hidup nelayan? Apakah pendidikan desa dengan mata pencaharian utama pertanian telah dapat meningkatkan mutu kehidupan pertanian di desa itu?


Kurikulum Pendidikan kita.
More...
 


Selayang Pendidikan

Polling

Apakah Website Ini dapat Membantu Anda Guna Meningkatkan Kinerja Yang Lebih Baik
 

Link Terkait



 
SMP-SMA-SMK
Budhi Warman 1
 The Education Development
Center Indonesia

 

 LP3I